Friday, 30 May 2014

Mendadak Team Sukses



Banyak orang lebih suka berkhabar tentang kegagalan orang tapi sedikit berkhabar keberhasilan orang. Banyak orang lebih gemar berkhabar kekurangan orang tapi sedikit berkhabar karya diri sendiri. Banyak orang mencintai berkhabar keinginan dan angan besar tapi sedikit berkhabar tentang memulai dari hal kecil. Banyak orang hobby berkhabar makian tapi sedikit berkhabar tentang semangat. 

Celakanya, perspektif "banyak orang" ini pula yang digunakan team sukses pemenangan. Celakanya, perspektif "banyak orang" ini pula yang digunakan simpatisan. Celakanya, perspektif "banyak orang" ini pula yang digunakan oleh calon pemilih.

Berkhabar dan memilih sesungguhnya sederhana. Berkhabar itu sederhana: tunjukkan yang telah dilakukan, tunjukkan yang akan dilakukan, katakan maaf untuk yang gagal diwujudkan, dan katakan semangat untuk yang akan diupayakan. Memilih pula pun sesungguhnya sederhana: pelajari siapa yang akan dipilih, apa yang sudah dilakukannya, apa yang akan dilakukannya, timbang-bandingkan, lalu pilih saat perhelatan pemilu digelar. 

Sederhana sesederhana bernafas. Tapi gagap-merdeka kadang bikin banyak orang gagap ngga jelas menempatkan posisi sebagai peran apa: team sukses engga pemilih sederhana juga engga jelas. Orang demikian saling cela-saling serang opini dalam ruang publik yang ngga jelas. Ngga peduli sosial media internet, facebook, blog, whatsup, BB, sms, koran, pengajian, mimbar khutbah, hingga perbincangan keseharian. Mendadak rame-rame jadi team sukses tanpa bekal data cukup: ujung-ujung cuma reproduksi black-campign. Jadi ngga jelas ini sebuah budaya cerdas atau budaya bebal yang telah tercipta. Pemilih ya memilih saja, kalah menang itu urusan team sukses: itu namanya profesional karena ada banyak pekerjaan bisa dilakukan bukan cuma berdebat apa yang mau dipilih.

Thursday, 18 April 2013

Hiperbola


Bersiap home run pasca hari yang melelahkan ini. Tapi kaya’nya musti bubuhkan sedikit komentar sebelum matikan PC. Sekilas tadi televisi di ruang bawah siarkan iklan laynan masyarakat tentang keselamatan penerbangan. Dikisahkan seorang ibu yang penumpang pesawat terbang tergopoh tergesa ingin membuka pintu pesawat dari dalam saat pesawat dalam keadaan bahaya. He… heran juga di Indonesia ada iklan begituan. Media yang membodohi masyarakat atau masyarakatnya yang kelewat bodoh sehingga musti ada iklan bodoh.

Namanya penumpang umum kalau dibilang pesawat dalam kondisi bahaya atau bersedia kecelakaan tentu insting-nya adalah pegang kursi kuat-kuat atau tutup mata berdoa. Mana ada yang kalap buka pintu pesawat? Kecuali dia penerjun yang membawa parasuit di punggung! Berani meloncat dari pintu pesawat adalah pelajaran pertama kursus penerjun pemula, bila nggak disuruh terjun justru malah bersyukur. Lha iklan ini justru memilih tokoh penumpang ibu-ibu yang nyelonong buka pintu pesawat.

Jadi teringat tulisan di gardu listrik peninggalan Hindia-Belanda di perempatan Njambu, Jogjakarta. Saat pulang sekolah dasar, namanya juga anak belajar baca aku dan teman-teman selalu sempatkan membaca tulisan di pintu plat besi-nya masih jelas walau telah lama tak dipakai. Ada gambar tengkorak dan di bawahnya ada tulisannya adalah:

pas op voor hoogspanning
beware of high voltage power

awas listrik tegangan tinggi
sing ngemek mati

Kkkwwkk… semua tulisan di atas artinya sama dalam aneka bahasa kecuali yang paling bawah. “Sing ngemek mati” adalah bahasa Jawa yang artinya “siapa pegang mati”. Nggak nyambung tapi sungguh peringatan sangat dasyat. Lha cuma peringatan orang lewat agar berhati-hati sementara ini baru pegang saja sudah mati. Lantas apa kaitan denga iklan layanan masyarakat tentang larangan buka pintu? Agaknya iklan layanan masyarakat ini menggunakan insting “struktur pengetahuan” yang sama. Komunikasi ala hiperbola.

Friday, 8 February 2013

Puisi-Ku

Kabut Terkenang: Akankah Kau Pergi?

Semburat rekah merah terlukis langit fajar menjelang,
Porandakan dekap lebat kabut sisa uap malam,
Laun kabut menipis memudar tinggalkan lamun,
Rintihku, jangan... jangan pergi...

Kabut sisa setahun surut tanpa beban siap tinggalkan, 
Terbirit takut tertelan rekah merah mentari,
Kabut menipis beringsut tinggalkan aneka kenang, 
Rintihku, jangan... jangan pergi...

Saat memang pasti akan pergi,
Tapi saat benar pergi ternyata tak mudah disikapi,
Seperti seperti seperti mau pergi memang tlah berkali,
Jangan... jangan... pergi, karena seperti kan benar pergi kali ini.
Kabut Terkenang: Akankah Kau Pergi?

Semburat rekah merah terlukis langit fajar menjelang,
Porandakan dekap lebat kabut sisa uap malam,
Laun kabut menipis memudar tinggalkan lamun,
Rintihku, jangan... jangan pergi...

Kabut sisa setahun surut tanpa beban siap tinggalkan, 
Terbirit takut tertelan rekah merah mentari,
Kabut menipis beringsut tinggalkan aneka kenang, 
Rintihku, jangan... jangan pergi...

Saat memang pasti akan pergi,
Tapi saat benar pergi ternyata tak mudah disikapi,
Seperti seperti seperti mau pergi memang tlah berkali,
Jangan... jangan... pergi, karena seperti kan benar pergi kali ini.

Wednesday, 30 January 2013

Puisi-Ku

Saat-saat Hati

Saat hati bergetar siapa tahu apa,
Saat hati bergolak siapa tahu bagaimana,
Saat hati bergerak siapa tahu mengapa,
Saat hati bergeletak siapa tahu di mana.

DenBagusE



     Orang Jawa mengenal istilah DenBagusE (baca: Den Bagus-e). Bila diurai "den" itu berarti tuan sementara "bagus" itu bermakna cakep atau tampan. Tapi bila disatukan menjadi Den Bagus adalah kata ganti orang untuk menyebut pemuda atau remaja berdarah biru atau yang "berkasta" priyayi. Den Bagus berbeda dengan Den Mas karena Den Mas itu panggilan singkat Raden Mas, sudah merujuk tanda pangkat dalam struktur birokrasi tradisional. 

Hal menarik ketika manusia Jawa juga mengenal istilah Den Bagus-e. Akhiran "e" di belakang bisa diartikan sebagai "nya" dalam bahasa Indonesia alias kata ganti orang ketiga. Tapi akhiran "e" juga bermakna sendiran atau ejekan terselubung. Btw, Den Baguse jangan dibayangkan sebagai pemuda priyayi terpandang. Den Baguse adalah nama panggilan untuk tikus. Hewan pengerat yang dalam kerangka berpikir Jawa identik dengan kotor, berperilaku busuk-destruktif, hama, dan licik. Tapi jadi makin menarik mengapa kata "Den Baguse" untuk menyebut tikus? Pertama, huruf "e" yang terletak samar di belakang menjadi pembeda dengan Den Bagus (beneran). Kedua, orang Jawa sudah tobat dengan perilaku tikus (tikus sawah dalam rekam memori orang desa dan tikus rumah dalam rekam memori orang kota) sebagai hesan super kurang ajar. Kemampuan beradaptasi dengan kehidupan dan kebiasaan komunitas manusia adalah salah satu biang: di mana ada manusia di sana ada tikus. 

Yang lagi menarik bahwa blueprint di kepala orang Jawa terlanjur terekam stereotipe bahwa tikus punya karakter (mampu) balas dendam bila sakit hati. Salah satu biang dendam kesumat tikus dipercaya terbit saat saksikan teman dibasmi. Biasa mereka akan mengamuk sejadinya. Jadi inget satu temen SD dan satu temen SMP pernah berangkat sekolah bersendal jepit dengan perban di jempol kaki. Ketakutan wabah dendam tikus akhirnya membuat orang Jawa memilih istilah Den Baguse untuk tidak menyebut "tikus" saat bergossip kenakalan tikus semalam. Sederhana alasan: biar tikus tak marah mendengar saat dibicarakan orang. 

Tapi tikungan yang paling lucu adalah istilah Den Baguse juga dipakai untuk menyebut orang bukan kultur priyayi tapi bergaya priyayi (bukan ningrat tapi sok bergaya ningrat). Tentu saja senutan ini tidak masuk ranah standart dalam kerajawian bahasa Jawa melainkan sekedar berfungsi sebutan-sindiran. Hal sama terjadi pada Kyai-"ne" yang misal hanya seekor bernama kerbau.

Monday, 28 January 2013

Badan Tinggi Untung-Tak Untung

Banyak temen (yang maaf bertubuh mungil) bilang bahwa jadi orang tinggi itu enak. Mereka so pasti ahli lah sebut aneka "enak" punya tubuh tinggi menurut versi mereka. Sebut aja mudah menggapai barang tinggi, lebih disuka lawan jenis, mudah match pilih pakaian, lebih PeDe saat berbincang, nggak disepelein orang, dll. Pokoke banyak lah versi mereka. Tapi aku punya versi sendiri, ku pikir orang tinggi juga rentan tertimpa banyak masalah. Memang aku tak merasa badan tinggi cuma seandainya aku lebih tinggi lagi mungkin lebih banyak masalah kudapat. Dengan tinggi badan segini aja setidaknya dalam setahun dua kali kepentok gawang pintu rumah kampung, nyangkut tali jemuran tetangga belakang rumah, dll. Nah terbaru hari ini saat jadi panitia sosialisasi kampus hingga harus bertandang ke sekolah-sekolah. Usai temui guru BP dan berpamitan, aku bergegas ke luar kantor sambil tutup pintu lagi rapat-rapat; karena awal ku masuk pula pintu tertutup rapat. Aku tutup tanpa ngelihat pintu melainkan berlalu sambil lalu menatap dunia luar. Saat pintu susah ditutup aku merasa ada yang ganjil pada pintu hingga susah ditutup: sesuatu yang memaksaku ngelihat ke belakang apa yang terjadi dengan pintu. Olala... kepala bu guru BP kegencet! Aduh kenapa ada di situ? Astagfirullah, tubuh imut mungilnya tak tampak olehku saaat tutup pintu. Untung cuma kejepit pelan tanpa saksi mata. Kalau sampai ada kenapa-kenapa masuk koran kan berabe. Maaf ya maaf...

Saturday, 26 January 2013

Berpikir Positif Sikapi Bencana

Saat fenomena bencana menerpa aneka gaya analisa alias pemaknaan akan mengucur bagai air bah datang. Bencana bisa menjadi lahan teks yang empuk dan liar untuk dimaknai. Gaya pemaknaan orang atas bencana bermacam mulai dari galau-miris, magis, ilmiah-kritis, hingga yang super sadis. Super sadis adalah ketika korban bencana dikonstruksikan sebagai pendosa yang layak mendapat azab. Ulama dan "ulama" sering memilih perspektif ini dalam orasi ruhani mereka. Sebuah peringatan atau ajakan kebencian? Ah kadang keduanya beda tipis dalam hasil. Bila diijinkan sampaikan gagasan, mohon pakailah kacamata positif.   Jadilah ujung tombak penyeru masyarakat untuk bangkit bukan makin dirundung merana. Analogi sederhana saat anak kita jatuh, "Bangun berdiri, jangan nangis yang penting besok lagi hati-hati!" Ungkapan ini lebih maanfaat daripada, "Sakit? Udah dibilang jangan lari-lari masih lari-lari, sekarang jatuh kan, sukurin rasain sakit. Itu sekarang hukumannya."  Nasihat yang memberdayakan lebih maanfaat karena memuat dua nilai sekaligus (refleksi kesalahan dan kekuatan recovery bangkit dari keterpurukan).  Btw nasihat produktif yang dihasilkan pemaknaan positif lebih maanfaat dan dibutuhkan. Jangan biarkan cobaan menjadi pengantar ke tiang gantungan sendiri (bagi yang lemah), karena berat cobaan adalah mekanisme menghebatkan diri dari Tuhan. Cinta Tuhan ada di sela-sela kaki bencana.

Sunday, 20 January 2013

Banjir Jakarta


Mumpung air belum surut tak ada salah kembali bergosip tentang Jakarta. Ibu kota negara satu ini sejarah hidupnya memang merana. Banjir bandang kambuhan membuat pemerintah Hindia-Belanda bermaksud pindahkan ke Bandung, sayang resesi Eropa bikin gagal rencana. Sukarno pun ingin Jakarta hijrah ke Palangkaraya. Jakarta-jakarta, satu kota dengan beban berganda. Idealnya sebuah kota hanya miliki satu karakteristik dan fungsi satu saja: misal daerah pariwisata, industri, perdagangan, ibu kota negara/administratif, militer, agraris, pendidikan, dll. Bagaimana Jakarta? Ia ibu kota negara alias pusat administratif, perdagangan, sekaligus industri. Kota memiliki banyak fungsi tentu PAD tinggi tapi terpikir nggak bahwa beban masalah juga terlalu beragam. PAD tinggi tapi banyak masalah vs PAD sedang-sedang tapi cuma sedikit masalah, sama saja kan? Mending pilih yang masalah sedikit tentunya. 

Bencana banjir bandang Jakarta tentu dihasilkan pula oleh beragam konflik kepentingan fungsi kota. Saat Jakarta memborong semua fungsi kota seperti pusat pemerintahan dan ekonomi maka 60% kegiatan dan kekuatan ekonomi Indonesia terkumpul di Jakarta. Akhirnya bila negara lain ingin berperang dengan Indonesia tinggal melumpuhkan satu kota saja, yaitu Jakarta. Saat PDII Sekutu perlu menyerang 3 kota di Jepang (Tokyo=pusat administratif, Hiroshima=pusat industri, Nagoya=pusat pendidikan, budaya, dan peradaban). Kabut tebal berbahaya menggagalkan serangan udara Nagoya. 

Bila terjadi invasi negara lain ke Indonesia tentu hanya cukup satu tujuan yaitu Jakarta dan seluruh Indonesia lumpuh alias darurat. Negara maju dunia tidak bodoh mengumpulkan seluruh aset di satu kota: Camberra tak seramai Sidney, Washington DC tentu tak seribut NewYork, dll. Spesialisasi karakter memungkinkan kota fokus dalam blue print pembangunan, integrasi sistem hukum, sosial-cost terlokalisir dan terencana. Maka cuma ada satu solusi, pindahkan Jakarta ke lain daerah.

Wednesday, 9 January 2013

Sejarah Butuh Peran Luar Biasa

Banyak orang mencibir dan menertawakan kenekatan yang dilakukan Dahlan Iskan dengan DI 19-nya. Tapi bila sejenak buka catatan sejarah otomotif maupun penerbangan yang dilakukan Dahlan menjadi sangat biasa. Penggagas otomotif dan penerbangan revolusioner selalu melibatkan kegilaan orang-orang eksentrik. Bukan orang biasa-biasa. Orang biasa-biasa itu sekedar pengekor atau minimal user-teknologi. Ingat Wright Bersaudara? Yang rela menguji coba dirinya terbangkan pesawat pertama. Ingat James Watt? penemu mobil uap pertama yang rela berkendara di antara kereta kuda. Adolf Diesel? Yang nekad bikin mesin mobil solar nan berisik. Saatnya dunia menghalalkan ruang perspektif buat pikiran berbeda. Saat sistem birokrasi dan sosial bebal dan tak merestui sebuah gagasan yang melambung melampaui jamannya diperlukan orang luar biasa. Sejarah bukan milik orang biasa-biasa. Sejarah adalah milik orang luar biasa.

Tuesday, 13 November 2012

Kapital Exchange


     Malam-malem udah olahraga dorong-dorongan lalu ngacir secepat kilat lompat ke motor buat kabur. Konstruksi berpikir orang Jawa memang unik. Saat mantu (nikahin anak) biasa tetangga dan kerabat berbondong silaturahim beri selamat sekaligus menenteng tali kasih (yang dalam istilah antropologi-nya tak lebih sekedar) disebut "kapital exchange" atau pertukaran ekonomi yang bernilai sosial. Kapital exchange adalah sebagian kekayaan yang tak pernah benar dimiliki (sendiri) melainkan posisinya hanya berputar-berpindah tangan karena dipertukarkan. 
      Saat menikah orang diberi dan saat orang lain nikah gantian memberi. Kepanitiaan acara pernikahan adat Jawa selalu punya petugas pencatat sumbangan. Fungsinya? Bila A menyumbang Rp.50ribu buat pernikahan B, maka kelak B pula harus menyumbang senilai sama dalam perhelatan A (atau disesuaikan kurs nilai uang karena inflasi). Catatan sumbangan ini tak boleh hilang bahkan diwariskan ke anak cucu untuk diingat; bahkan hingga difotocopy agar bila hilang masih ada serep-nya. Jadi si Rp.50ribu ini hanya berputar-putar saja dari satu tempat ke tempat lain tanpa benar jadi milik alias setara pinjaman.
      Sampai di sini mungkin ada orang protes, lalu apa kaitan tulisan "sak gedabyah" (ungkapan menggelitik dalam bahasa Jawa untuk menyebut sesuatu yang sudah terlalu banyak) ini dengan kalimat berita di awal alenia pertama masOm???  Persoalan memang menarik ketika ada deviant (agen perubahan sosial yang dianggap aneh) melakukan tindakan tak biasa dalam komunitas. Semalam ku "njagong" (hadir di kondangan pernikahan) dimana tuan rumah sengaja tak menerima sumbangan. Ini sungguh tak biasa. Ku lihat beberapa undangan harus pulang kecewa karena amplop mereka ditolak dan dikembalikan. Untung aku berhasil baca suasana hati tuan rumah hingga memutuskan tak bawa amplop melainkan sekardus indomie berisi "sebongkah" sembako. Standar operasional menolak amplop itu sudah dipahami pejabat panitia "front office" di luar. Tapi sebongkah sembako itu persoalan lain yang harus segera dilaporkan baginda pemilik hajat. Sang baginda pun tak mampu memutus menolak tanpa menggelar rapat kabinet kilat di belakang layar. Uang adalah simbol kekuasaan yang bisa ditolak (itu perkara mudah), tapi sembako/makanan itu simbol tali cinta jadi menolaknya sama saja sebuah penghinaan. 
      Biasanya cuma ada dua standar operasional penolakan sembako/ makanan: pertama, mengganti bawaan dengan bungkus yang lain atau kedua, mengembalikan sepenuhnya (seperti semula) plus bawaan tambahan (sembako atau makanan juga). Opsi pertama biasa berhasil karena pihak penyumbang akan terkena pasal tidak boleh menolak sembako/ makan dari penilik hajat (sekalipun setelah dibuka di rumah ternyata bawaan sendiri dikembalikan). Opsi kedua biasanya kurang berhasil karena biasa orang menolak mentah-mentah barang pemberiannya dikembalikan. Tapi bungkus yang lain terpaksa harus diterima orang yang berangkat kondangan. Nah semalam, saat jelang pulang barang bawaanku dikembalikan dengan opsi kedua, maka pertempuran tolak menolak barang bawaan dengan kata dan tindakan pun terjadi sengit antar ibu-ibu. Kkkkwwkkkkk... pembaca budiman, tentu ini hanya sandiwara kultural. 
      Walau sandiwara tapi mereka harus jalani serius karena karena inilah tradisi kebudayaan. Pemilik hajat sebenarnya tahu bahwa mereka tak kan berhasil mengembalikan demikian hal orang berangkat kondangan juga ngerti bawaannya tak sungguh-sungguh akan dikembalikan. Suasana hampir seperti adu pencak silat saat mempelai pria akan dinikahkan dengan mempelai perempuan pada masyarakat Betawi. Pertempuran ibu-ibu saling menolak sumbangan biasa berakhir damai. Tapi tak jarang aneka tipu muslihat pula dimunculkan para bapak untuk memecah perhatian. Saat ibu-ibu saling dorong halus para bapak kerabat mempelai ada yang menggoda anak-anak. Saat terlena perhatikan apa yang diberikan pada anaknya, pemilik rumah segera menaruh barang ke mobil atau cantolan motor. Tapi bila segala cara mengembalikan dipandang tak berhasil tuan rumah harus rela hanya bisa mengembalikan berupa bungkusan lain (yang sedianya tambahan). Kkkkwwwkkk demikian unik konstruksi berpikir orang Jawa.

Saturday, 29 September 2012

Cemburu Manula


Ngelihat suami-istri usia senja sekitar 70-an tahun berjalan lenggang gemetar bersama berbalut pakaian-training. Senyum dan bergandeng tangan, cerianya mereka menyambut mentari pagi. Ah ingatan jadi terlempar dua hari lalu. Silaturahmi ke rumah tetangga lama sekaligus guru les matematika jaman SMP. Waktu itu beliau sudah pensiun pula jadi nggak kebayang kan bagaimana kondisi saat ini. Masih sehat tapi sehatnya orang tua bagaimana sih bisa kebayang. Ya walau sudah diles tetap aja aku bodoh matematika mungkin karena lebih banyak diajak ngobrol tentang hidup dan kehidupan daripada materi les. Ha..ha.. bingung juga kenapa saat itu aku juga bisa nyambung ngobrolnya ya. Tapi setelah kematian istrinya 2 tahun beliau jadi lebih renta. Dua anaknya yang telah persembahkan cucu manis-manis (tampaknya) makin kebingungan dari-hari ke hari menyikapi orang tua mereka. Orang tua ini jadi sering melow, sedih, bingung, melamun dan kadang uring-uringan sendiri tak tahu apa yang diingin. Lebaran kemaren anaknya berkabar via telepon dan mengabarkan bahwa lalu namaku sering disebut-sebut dalam perbendaharaan kosa kata harian. Aduh jadi nggak enak juga apa hubungan aku dengan semuanya? 

Sayang waktu sulit berluang untuk silaturahmi untung kemarin sempat. Ngobrol dari A ampe Z kalau merek mobil korea mah Hyunday "AtoZ" (A to Z= dari A ampe Z). Cerita mulai dari nakal saat kanak-kanak, iseng remaja, ketemu jodoh, pacaran bersepeda, menikah, ampe keluar anak-cucu, dan endingnya ditinggal mati istri 2 tahun lalu. Haduh... kalau dia BJ. Habibie pasti ditulis bukunya laku. baru tahu juga ternyata saat menikah ia laki-laki lajang lulusan SPG dan guru bantu, sementara istrinya dan istri pernah bercerai dengan tentara berpangkat tinggi. Mereka berpisah karena perselisihan keluarga besar bukan masalah internal. Ukuran sukses saat itu adalah sepeda ontel khas oemar bakre dan motor. Si tentara sudah bermotor dan rumah dinas sementara mas Guru satu ini masih bersepeda onta yang rantai dan pedal copot melulu. Belum lagi ban roda yang sering gembos disumpal dengan ban bekas biar tak usah repot mompa lagi. De..el..el (aduh kalau dicerita lagi bisa aku memindah perjamuan saat itu ke hari ini di FB. Bisa pada ketiduran orang baca kisah ini).

Nah dari cerita bingkai berbingkai ini jadi ketemu kenapa mendadak beliau bergaya layaknya anak ABG lagi sepeninggal istri. Rupanya beliau cemburu pada istrinya. Baru tahu bila eks guru negeri teladan ini pencemburu berat. Tapi bukankah saat ini istri sudah meninggal apalagi yang musti dicemburui? Sederhana masalahnya, beliau cemburu pada malaikat-malaikat tampan yang bakal mengunjungi sang istri di surga nanti seperti dalam kisah kitab suci. Aduh rada pusing juga kalau begini urusan. Seandainya beliau pernah belajar hermeneutika tentu akan mudah meraba barangkali tokoh malaikat cantik dan tampan sekedar personifikasi aneka kebahagiaan tak terkira di surga (bukan selalu fisik manusia menawan). Jadi tak mungkin berhermeneutika-ria dengan beliau. Lalu aku bilang bahwa bukankan bila kita manusia baik pula yang layak hidup di surga bisa menemui orang tersayang kelak, "Panjenengan bisa berkumpul lagi dengan ibu kelak di surga" (kata "panjenengan" adalah bahas Jawa halus untuk menyebut seseorang terhormat. Di tual dugaan jawab beliau,"Itu masalahnya, apa dayaku, aku tentu kalah hebat segalanya dibanding dengan malaikat-malaikat itu. Dia bahkan mungkin juga tak kan ingat aku lagi. Akan banyak malaikat tampan muda di sekelilingnya!" Waduh susah juga ya sama-sama belum pernah lihat surga lalu aku berandai-andai bagaimana dengan bidadari-bidadari muda dan cantik? Di luar dugaan beliau menjawab,"Aku cuma ingin dia bukan yang lain." Jrengggg...... sayang waktu ucapan itu tiada musik pengiring seperti di sinetron atau operet. Rupanya pengalaman minder selama hidup beliau diterapkan untuk memproyeksi kehidupan surga. Ya barang tentu strees. 

Bla..bla..bla.. ending cerita jelang pulang anak-anak beliau bertanya, "Bapak kenapa?" Aku cuma bisa jawab beliau cemburu sama para malaikat di surga dan memilih sisa hidupnya akan tersita buat berdoa semoga istrinya akan ingat dia kelak. Aku cuma sarankan ke anaknya supaya sering luangkan waktu buat menemani dan bikin cerita (walau cuma ngarang demi kebaikan). Bikin cerita seolah sang istri sering memuji beliau di depan anak-anak saat masih hidup, bikin ia yakin, cuma itu yang bisa besarkan jiwanya. Bila energi hidup perempuan adalah "semangat pengabdian", sementara energi hidup laki-laki adalah "keyakinannya", jadi masing-masing akan mati atau "mati" tanpa itu. 

Semoga beliau dikarunia usia panjang yang maanfaat dan khusnulkhotimah bila suatu saat berpulang.

Monday, 3 September 2012

Too Much Love Will Kill You


"Too Much Love Will Kill You...." begitulah potongan lirik yang dilantun Freddie Mercury saat kejayaan Queen sekitar tahun 1988-an. Beruntung siang ini aku bisa menikmatinya lagi dari siaran radio streaming online sambil santai. Ah ingatanku jadi terlempar pada keluhan teman beberapa waktu lalu. Tampaknya ia gamang melepas anak hidup bersentuhan dengan kehidupan nyata (baca: sesungguhnya). Ia sela
lu ajari anak laki-lakinya yang menginjak SMA bahwa kehidupan di luar rumah demikian ganas. Kalimat yang selalu meluncur dalam nasihat andalannya adalah, "...kamu memang sudah besar tapi kamu belum tahu apa-apa tentang kehidupan ini, kehidupan ini begitu luas, ganas dan masih banyak yang belum kau tahu." 

Suatu saat nasihat ini jadi senjata makan tuan ketika anak harus pulang ke pesantren sementara orang tua tak bisa antar karena tertawan pekerjaan. "Bagaimana ini?" Anakmu sudah mampu berangkat sendiri tanpamu kataku. "Sembarangan, anakku ini laen, dia khusus bagiku, dia beda dengan anak laen (baca: anak orang lain) kasihan dia bla...bla... bla..." "Too Much Love Will Kill You...." tiba-tiba syair itu terngiang dalam kepalaku. Wahai orang tua, siapa sih yang nggak sayang sama anak? Semua orang tua berpikir sama seperti itu. Walau anak tak ada (maaf) cacat, tiap orang tua selalu merasa anaknya khusus, lain dari yang lain, kasihan, dll. (disadari atau tidak). Tapi sayang/cinta itu tak harus bikin kita memasung anak dalam sangkar emas berlapis peredam benturan selembut manisan marshmallow (saking takut anak cidera anak). Ha...ha..ha.. anak juga butuh berkembang seperti kebanyakan anak seusianya. Sangkar marshmallow mungkin tak ciderai fisiknya tapi bagaimana dengan perkembangan jiwanya?

Banyak anak tak mampu bersepeda karena orang tua takut anak cidera jatuh. Banyak anak tak mampu bersosialisasi dengan orang lain (misal orang kampung/ miskin/ tua/ asing/ lawan jenis/ dll) --orang yang berbeda status dengan dirinya karena orang tua batasi pergaulannya demi "keselamatan" atau "jangan sampai terjadi apa-apa." Ada pula orang tua yang memilih pendidikan home schooling untuk anak agar terhindar dari dampak negatif pergaulan remaja lain. Ada orang tua yang tak ijinkan anak main dengan beda agama, beda suku bangsa, beda kasta, dll. Terbayang nggak kerugian seumur hidup apa yang bakal diderita anak demi "jangan sampai terjadi apa-apa" itu?

"Too Much Love Will Kill You...." Orang boleh beda pendapat dengan tulisan ini tapi saran yang patut dicoba adalah: IJINKAN ANAK KITA BERKEMBANG SEPERTI UMUMNYA ANAK SEUSIANYA. Dunia kita sekarang sudah lain, kejahatan di mana-mana, penyakit merajalela, kondisi lalulintas makin mengkhawatirkan, bla...bla...bla.. Itu yang sering dkemuka orang tua tapi sejak kecil aku pun sudah mendengar itu dari gosip ibu-ibu antar pagar rumah. Artinya apa? Ya semua kekhawatiran dan yang dikhawatirkan itu sudah ada sejak dulu. Bahwa kondisi sekarang makin parah? Ah tiap generasi telah dipersiapkan Tuhan untuk menghadapi era-nya. Saat remaja aku bangga mampu menggeber motor 70cc aku hingga mentok, saat itu ayahku bilang separoh gas aja sudah kabur pandangan (wajar saat ayahku remaja cuma punya sepeda dan motor kumbang). Tapi saat ini aku tak lagi mampu begitu karena motor sekarang 125cc ke atas, separoh gas aja aku tak mampu lihat jalan dengan jelas. 

"Too Much Love Will Kill You...." Lalu apa yang dibutuhkan? Nasihat dan arahan konstruktif, dialog antar generasi (saling sadari gap perspektif ), pendidikan positif, religiusitas, dan tiuplah doa selalu. Selanjutnya biarlah Tuhan bekerja dan ijinkan anak menempuh ujian akhir untuk tiap nasihat yang sudah dibekalkan orang tua. Tiap butir nasihat adalah teori maka ijinkan anak mengujinya di laboraturium raksasa Tuhan dan tugas orang tua untuk mendapinginya. Tak mungkin orang belajar sepeda tanpa jatuh dan tugas orang tua tolong ia saat jatuh. Cinta itu bukan mengurung-memenjarakan, cinta sejati itu membebaskan dari ketidakberdayaan.

Friday, 27 July 2012

Perkosaan Terorganisir Cuma Diancam Kurungan 5 Tahun?



Berita di Metro TV (26/7) sebutkan bahwa ke lima pelaku perkosaan angkot akan diancam hukuman 5 tahun penjara. Istilah diancam itu merujuk pada kemungkinan tuntutan jaksa sementara dengan sedikit aksi pembela keputusan bisa berkurang dari tuntutan. Problemnya adalah ancaman hukuman 5 tahun penjara sangat tak sebanding dengan dampak perbuatan pelaku apalagi masih mungkin dikurangi. Analisis Antropologi Hukum melihat bahwa apa yang mereka lakukan bukan lagi sekedar perkosaan biasa melainkan ada pemberatan berupa terencana, masif, dan menebar “teror”.



Aksi perkosaan mereka bukan sekedar akibat tak mampu kendalikan birahi sesaat melainkan telah melalui perencanaan matang, terorganisir, dan boleh dikata profesional. Politisasi sexual telah terjadi dalam kasus ini.  Pemerkosa menjarah harta benda korban sementara perkosaan dilakukan sekaligus untuk menutup mulut korban agar tak mengadu tindakan pelaku karena malu karena secara kultural korban perkosaan akan mendapat stigma negatif di masyarakat. Ingat bahwa Gubernur pun sanggup menyalahkan perempuan konsumen angkot dalam hal ini tanpa berbuat logis (yang menjadi tugasnya) perbaiki sistem angkutan umum ibukota agar lebih layak, praktis dan aman. Dampak sosial kasus ini bila dibiarkan adalah pertama, traumatik para perempuan konsumen angkot padahal angkot satu-satunya sistem transportasi realistik ibukota. Kedua, teori imitasi (meniru gaya pelaku) bisa meluas menyebar ke daerah lain manakala keadilan hukum tidak berefek jera apalagi sistem transportasi tak ada perubahan. Ketiga, efek traumatik sosial mungkin bisa lahirkan pengadilan massa di jalanan walau ini kecil terjadi dalam masyarakat dengan kesibukan tinggi seperti Jakarta. Namun demikian pengadilan massa cuma perlu dua faktor pertama, tingkat kejenuhan tinggi (kesal tak tertahan) dan detonator (peristiwa pemicu).


Sebuah aksi kriminal rentan mewabah bila tak disikapi dengan benar oleh negara demikian halnya kasus perkosaan angkot ini. Tanpa usaha perbaikan fasilitas transportasi, pelaku operator, dan  keamanan-nya boleh jadi kasus ini menjadi bibit bencana kemanusiaan masa depan. Perubahan sosial budaya negatif tentu telah menanti salah satunya kembali memasung perempuan dalam penjara domestikasi karena alasan keamanan. Sekali lagi perempuan menjadi korban ketidakbecusan penyelenggara (baca: pemegang amanah) pembangunan.

Monday, 16 July 2012

Takut

Kemaren malam habis isya'...... "Ayah gelap!" Sssst.... cuma mati lampu kataku. "Nggak bisa lihat..." Anakku, manusia dicipta sempurna lebih dari mahluk kebanyakan, diam sebentar sayang... ijinkan matamu terbiasa... lalu kau akan melihat lebih... "Itu di atas apa Yah?" Itu balon lampu neon Phillip. "Ko putih, lampu kan mati?" Itu partikel serupa fosfor buat tolong orang berjalan saat tiba mati lampu. "Kalau putih yang itu...?" Itu handukmu ketinggalan di kursi kan? "Ko jadi banyak kelihatan putih?" He..he.. itu karena penglihatanmu makin terang sekarang dan warna putih paling mudah terdeteksi mata. "Aku takut Yah..." Anakku, semua orang takut pada hal-hal yang belum diketahuinya tapi hidup harus terus berjalan.

Monday, 18 June 2012

Konflik Agama atau "Konflik Agama" ?



Ampunnnnn... rasanya mengikuti konflik etnis di Myanmar. Kenapa agama-pake di bawa2. Itu kan konflik etnis, wilayah, kepentingan ekonomi, dan kewarganegaraan. Muslim Myanmar bukan orang asli Myanmar melainkan eks imigran gelap Bangladesh yang mungkin juga tidak sepenuhnya muslim (baca: belum tentu mukmin=taat, sekedar punya tradisi muslim). Hal yang juga terjadi pada konflik Palestina-Istrael, Pakistan-India, Moro-pemerintah Philipina, pula konflik Thailand selatan dengan pemerintah Pusat Thailand. 




ABG Palestina yang sering diidentifikasi sebagai gerakan intifada --yang suka lempari batu tentara Istrael atau yang main2 rakit rudal panggul (baca RPG) buat diluncurkan ke perkampunga Istrael tidak seluruhnya muslim. Anak-anak usia SD-SMP ini bahagia dengan aktivitas mereka sama seperti anak-anak Jawa merangkai mercon di bulan Ramadhan. Bedanya anak-anak Jawa cuma produksi suara sementara ABG Palestina bila beruntung bisa melubangi tank Merkava Mk.4 atau M1 Abrams. Setidaknya mereka bisa membuka 6 atap rumah sekaligus dalam hitungan detik di perkampungan Istrael. Dalam kepala mereka bukan selalu memperjuangkan hak muslim semata melainkan lebih konflik wilayah. 


Konflik Pakistan pula karena tak satu etnis dengan India walau mereka hidup di atas benua sama (yang mereka sebut sebagai) Bharat Matta (belaian bunda). Pakistan dalam sejarah adalah keturunan Monghul (kurang lebih hari ini bernama Irak) yang pernah menginvasi India sebelum Masehi. Konflik internal tanah jajahan memaksa kolonial Inggris pusing dan memisahkan mereka dalam dua negara (yang bersaing). 


Konflik di Philipina selatan berakar mirip dengan Thailand selatan. Orang Moro di Philipina selatan merasa bukan bagian masyarakat Philipina (yang didominasi etnis Filipino) melainkan orang Melayu yang dideskriditkan oleh negara. Demikian halnya dengan masyarakat di Thailand selatan mereka lebih merasa sebagai etnis Melayu (bukan etnis Thai yang mayoritas dan dominan). Multikultur itu bukanlah pilihan melainkan sebuah realita budaya dalam hidup. Pilihan sesungguhnya adalah mau hidup damai bersama atau terus konflik yang berujung kontraproduktif bagi kesejahteraan. 


Simplifikasi seringkali dilakukan orang dari luar wilayah konflik. Agama sering menjadi tautan emosional empati dalam penilaian politis konflik. Kondisi ini yang bikin sebuah konflik mudah meluas bahkan melaju untuk tujuan berbeda. Pada sisi lain agama pula sering digunakan sebagai komoditas penggalang solidaritas (mempersatukan komunitas) dalam belaian Sang Adikodrati yang abstrak tanpa cela. Persoalannya adalah apakah tokoh2 "penganjur" solidaritas agama untuk konflik adalah tanpa cela? Sekali lagi Sang Adi Kodrati boleh tanpa cela tapi demikian kah dengan para penyembah tottem Sang Adikodrati-nya? Para operator dan konsumen solidaritas agama (yang masih berwujud manusia itu) bukanlah tokoh yang bebas dari kepentingan politik. 




Tuesday, 12 June 2012

Bangsa Maju tak Harus Kaya Sumber Daya

Satu proposal penelitian dah jadi.... ah senengnya puas bisa terkirim. Bisa kembali nikmati suguhan acara NHK Jepang kemaren tercampakkan. Sebuah stasiun televisi pemerintah Jepang yang menurutku jago bener bikin liputan budaya memukau. Sore ini giliran seni lukis telur. Salah satu tokoh yang diangkat bernama Ohara. Bangsa maju memang tak mesti kaya apalagi harus berlimpah sumber daya. Menurutku bangsa maju adalah ketika masyarakatnya ikhlas menekuni pekerjaan dan hobby masing-masing kemudian membiarkan orang lain riang menikmatinya.

Friday, 8 June 2012

Salah Tak Rasa Salah


Jalanan makin tak aman. Semalam ada motor tanpa lampu ngelintas kenceng bener ampe hampir nubruk. Bila jumpa satu motor itu masih bisa dibilang kebetulan tapi ini berkali. Begitu pula malam-malam sebelum ini. Kayanya apa emang life style hari ini kale. Anak muda suka sebut free-style buat tindakan "postmodernisme" berkendara motor alias acak2an. Kadang heran juga motor-motor baru tapi masa lampu putus? Lampu aus korban peraturan lampu harus nyala siang atau emang nggak dinyalain? Klo emang life style ya mati dah.... rontok sistem budaya adiluhung yang pernah kita punya. Saat ku kecil orang mengendara motor tanpa lampu masih tahu diri dengan jalan pelan. Mereka justru ngerasa bersalah. Sayang Hari ini seolah rasa itu udah lenyap: udah salah pakai motor lampu mati justru jalan kenceng lagi. 
Btw soal rasa bersalah telah lenyap hari ini..... seperti ada kaitan dengan konsep jagat gede-jagat cilik (dunia kecil-dunia besar) yach....... Perilaku jalanan adalah jagat cilik sementara apa yang dicontohkan para pesohor pengampu negeri adalah jagat gede-nya. Pejabat atau artis berbuat mesum gak mau ngaku atau sekedar mundur menghilang dari publik justru semakin menantang pembuktian media dan masyarakat. Pula demikian pejabat tersangka skandal korupsi tetap bertahan opininya sampai kondisi bener2 tak mampu lagi dikendalikannya. Mereka demikian gagah dalam jumpa pers dengan media dengan lambaian senyum bak selebriti atau tantangan garang dengan deret advokat dan bodyguard yang disewa. Bahkan dibalik terali pun masih lantang berkukuh diri sebagai korban konspirasi. 
Sungguh PR yang terlalu berat buat perbaikan budaya bangsa yang sudah terlanjur runtuh ini. Itu pun bila ada yang masih peduli mau dan ingin memperbaiki. Bagaimana kasus Century? Ah siapa peduli... apalagi fenomena kekacauan budaya semacam ini. Semoga bangsa ini tidak terlanjur terbiasa dengan segala sesuatu yang tak pernah selesai.

Thursday, 7 June 2012

WAGs


         Di Indonesia ada persatuan istri PNS dan PNS perempuan bertajuk Dharma Wanita. Ternyata di dunia sepak bola Inggris juga ada nama WAGs. Anggotanya tentu para istri dan pacar pemain bola. Menurut Wikipedia istilah WAGs mulai populer tahun 2002 dan nuansanya memang rada miring juga kkkkwwwkkk.... Kata Wikipedia, "It was never guaranteed that the wives and girlfriends (or "the Wags", as staff at the Jumeirah Beach Club call them for short) would get along. Mrs Beckham's tongue, for one thing, has previously run away with itself. Maksudnya ya jangan nagis kalau tak seberuntung istri Beckham alias dicerai atau diputusin, maklumlah jadi kekasih selebriti berduit= nasib serasa selalu diujung tanduk.
     Berita terbaru WAGs terkait EURO 2012 adalah mereka berniat patungan sewa pesawat jet mahal buat saksikan para kekasih mereka berlaga di Polandia dan Ukraina. Sederhana karena mereka bisa pulang kapanpun tanpa jadwal penerbangan reguler. Mereka juga tak berminat menginap karena masyarakat dua negara Eropa itu terkenal tak ramah bahkan rawan rasisme terutama buat kulit hitam. Pebola kulit hitam Inggris pun tercatat sudah layangkan ijin tak ikut kompetisi di dua negara ini karena takut pulang dalam peti mati. 
     He...he... fokus cerita ini sebenernya bukan membidik kasus rasial tapi si WAGs ini sendiri. Agaknya fenomena WAGs akan segera booming di tanah air itu berkaca pada prestasi olah raga basket tanah air yang kurang membanggakan tapi justru cheerleader yang lebih mengemuka, olahraga bola yang tak kunjung membumbung prestasinya melainkan komentator, cafe nonton bareng, sinetron khayal bola macam si Madun, club seporter dan boneknya. 

Mari tersenyum untuk perubahan lebih baik.

Tuesday, 5 June 2012

Republik Negosiasi


Cari semangka di deret kios buah depan pasar raya Salatiga. Saat nawar rada kaget karena dapat protes lirih, "Kok ditawar Yah...?" Ya iya musti ditawar kalau beli di sini. "Kalau di toko?" Kalau di toko ya jangan, kagak boleh. "Lho kemaren ayah beli di toko kok ditawar yooo..." (aduh medhok Salatiga banget). Di mana di tawar tanyaku. "Itu di toko listrik itu." Tangan mungil menunjuk toko Gloria di sebelah. Waduh mati gimana jelasinnya, kacau dah definisiku tadi. Sambil jalan pulang aku coba jelasin sebisa aku terserah dia ngerti atau tidak. Kata orang-orang tua anak2 menyimpan informasi yang di dapatnya sekalipun tak mengerti untuk dibongkar (dianalisis) lain hari ketika ia mendapat pasangan variabel yang dibutuhkan untuk mencerna. Anakku, masyarakat Indonesia tidak mengenal harga fix dalam jual beli kata Geertz. Mereka lebih menyukai harga luncur yang dihasilkan dari tawar menawar. Mungkin "kepuasan" itu budaya juga bukan sekedar psikologis. Penjual memilih bersibuk ria  bertaruh harga dalam permainan tawar-menawar dengan harapan untung yang lebih tinggi. Kepiawaian mempertahankan harga dan menawar menjadi kebanggaan tersendiri dalam masyarakat. Meninggalkan penjuan dengan barangnya tanpa menawar menimbulkan galau tersendiri bagi pedagang sebaliknya barang tak boleh ditawar juga buru-buru akan ditinggal atau dicap mahal oleh pembeli. 
Budaya tawar-menawar berkembang jadi karakter penyakit manakala saling tipu menipu sebelum arena tawar menawar dibuka. "Nawar kok seperempatnya, nawar itu setengahnya malah kurang dari setengahnya terus naik...naik... gitu," demikian nasehat nenekku dulu. Jadi orang sudah menaikkan sekian kali lipat agar bila ditawar seminimal mungkin juga masih untung berlipat. Di sisi lain pembeli pun sudah tak asing lagi bahwa  kebiasaan itu biasa dilakukan pedagang. Boleh dibilang sama-sama tahu. akhirnya tinggal budaya kepuasan saja dalam lingkaran permainan tawar-menawar. Dipandang dari sudut pandang lain sesungguhnya ini kontraproduktif. Berapa waktu terbuang dan  tersita buat tawar menawar? Bukankah untung sedikit tapi cepat dan pasti memungkinkan segera memutar modal berganti koleksi. Bukankan Segera menuntaskan pembelian lebih produktif waktu bisa digunakan kerja lagi. Tapi masyarakat ini tentu menolak mentah-mentah pikiran logis ini. "Itulah seni-nya jual beli," kata seorang temen yang makelar mobil.    
Kebiasaan tawar menawar membawa kebudayaan ke dalam proses pembusukan manakala tradisi tawar menawar ini mulai bermain mata dengan budaya menerabas. Kena tilang polisi tawar menawar, DPR mau putuskan sebuah produk hukum tawar menawar proyek, penegakan hukum narkoba Corby tawar menawar dengan Australia. Tidak ada sesuatu yang pasti akhirnya berkembang di Republik ini bahkan hingga masalah hukum, keadilan, dan kesejahteraan. Republik Negosiasi mungkin pas untuk disematkan. Pancasila dan UUD45 sebagai produk hukum tertinggi negara mengatur bahwa semua agama berkedudukan sama namun untuk melakukan misa saja harus dikejar-kejar, sudah tiba di tepi jalan masih digusur pula sampai entah kapan negosiasi berakhir. Apapun yang terjadi negara ini harus tetap kita cintai anakku.... ternyata kamu sudah tidur.